Rabu, 24 Mei 2017



 


Dok foto saat penyampaian kesan dan pesan oleh para wisudawan Yance Zani (Foto: Anton F G)


Manado, KABARMAPEGAA.COM--salah satu Anggota forum Komunikasi Mahasiswa Moni Kabupaten Inta Jaya (FKMI) Cabang Manado di Sulawesi Utara (SULUT), Yance Zani Memperoleh Gelar Sarjana Komputer (S.Kom) Menggelarnya Ibadah Syukur Wisudawan Bersama mahasiswa papua, yang di wisudakan pada (22/05/2017) dari Kampus Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer STIMIK Matuari Manado

Ibadah Pengucapan syukur di Pimpin Oleh Bapak Pdt.Ricart Tumilar SE.M,Si dengan Thema Yang Mengangkat Oleh Tim Kerja dan Para Wisudawan, Thema : mengucap Syukurlah dalam segala hal sebab itulah yang dikehendaki allah didalam kristus yesus bagi kamu, dan janganlah padamkan Roh Kudus, sedangkan Sub Thema: Aku Bersyukur Buat Talenta Yang Tuhan Berikan Kepadaku Sebagai segala Sumber Kehidupan bagiku, Jelasnya.

Dalam Sambutan Etinus Kogoya S.Ked Badan Pengurus Ikatan Mahasiswa Indonesia Papua (IMIPA) Sulawesi Utara Mengatakan Bahwa Palau Papua meliliki tujuh wilayah adat besar dan mempunyai adat masing-Masing , sebab kami Harapkan Bahwa yance adalah Utusan daerahnya dan pada umumnya untuk pembangunan kabupaten Intan Jaya dan kesejahteraan Masyarakat Papua,kata Etinus Kogoya

Para wisudawan anda adalah utusan dari Daereh,Utusan dari Orang tua dan bahkan Utusan dari Agama, sarjana yang anda memperoleh ini bisa menyenaman Kemarin di tanah negeri papau dan lebih Khusus di dareah intan jaya. Ungkap Titus Zani kepada www.kabarmapegaa.com pada (24/05/2017) di saat sambutan mewakil badan Pengurus FKMI.

Wisudawan Yance Zani Saat diwawancarai Kepada Wartawan Kabarmapegaa.com bahwa saya selesai tepati waktu karena Roh Kudus yang Mengarahkan Saya dan Saya mempunyai komitmen, Fokus dan visi misi perjuangan pendidikan,katanya wisudawan Yance.

Rasa, Para wisudawan Mengucapan Terimakasih kepada,Senior yunior Yang Ada di sulawesi Utara , Mahasiswa Papua, Mahasiswa/i FKMI dan terutama kepada Orang Tua dan Tuhan karena dukunagn, Bantuan serta Doanya sehingga Saya telah selesai kuliah dengan baik dan tepati waktu,tutupnya Yance Zani.

Pewarta : Anton F Gobay
Sumber    : www.kabarmapegaa.com


Menghikuti musyawara umum IPMADO yang ke-VIII kali di Sulawesi utara sedang bahas  AD-ART foto: audeles douw
  
Manado, aapandodei blogspot.com ikatan pelajar dan mahasiswa/I kabupaten Dogiyai (I PMADO) Sulawesi utara (SULUT) Menggelar dalam rangka musyawarah umum anggota (MUA) melalui MUA Fransiskus Goo terpilih menjadi badan pengurus masa periode tahun 2017-2018. 

Kegiatan musyawarah umum di awali dengan Ibadah singkat dan ibadah di pimpin oleh Ancelina IP Yobee  dengan thema yang mengangkat oleh Panitia,  thema : “pemimpin yang melayani” MUA ini berlangsung di kontrakkan paniai pada (20/05/2017) di tomohon Sulawesi Utara.
ketua Panitia penyelenggaran Musyawarah Umum anggota (MUA) MERI MARIA MOTE Mengatakan bahwa Dalam pencarian dana ini seluruh anggota IPMADO harus berpartisipasi dalam kegiatan musyawara in ikata,nya.

Organisasi IPMADO Gelarkan musyawara umum yang ke-VIII kali dan maka itu mengalokasihkan setiap biro-biro yang sudah di tetapkan dari Badan Pengurus, maka itu semua Jumlah uang sebesar Rp = 5.000,00. uang sebesar ini, menghabiskan dalam kegiatan MUA ini

Musyawarah Umum Anggota (MUA)  ikatan pelajar dan mahasiswa kabupaten  dogiyai (IPMADO)  berlangsung di tempet tomohon Kontrakan Paniai pada hari sabtu  tanggal 20/mei/2017/2018 seluruh mahasiswa/I melibat dalam kegiatan musyawara umum di Sulawesi utara

Badan Pengurus yang terpilih adalah: FRANSISKUS GOO mengatakan bawah semua kegiatan IPMADO maupun selain dari wadaH-wadaH yang lain di Sulawesi utara tetap kita akan kerja bersama  

 Visi Dan Misi Badan Pengurus Yang diPilih 
VISI  
Membangun organisasi IPMADO dengan Hati Nurani
MISI

  I. Kalau Misalnya saya terpilih menjadi badan pengurus,saya siap Merangul semua Anggota IPMADO  yang kulaih di kota study Suawesi Utara bahkan pelajar yang sekolah di kota sulawesai utara
  1. II.  Misalnya Kalau Saya Naik Menjadi Pengurus,saya  Mengkordinir di antara  Ketua, Pengarah, Pengurus dan seluruh anggota IPMADO
setelah pemilihan di lanjut dengan  dipilih membentuk Tim formatur Pengarah, Sterin komite,Mantan Badan Pengurus IPMADO dan Badan  Pengurus IPMAPANDODE.mereka ini yang akan Menyusun kegiatan Lanjuutnya.
Ketua badan pengurus yang terpilih fransiskus Goo menyerima
SK IPMADO seorang nasionalisme. : pewarta Doubukega Blacky
Ketua Sidang tetap MARKUS MAKAI Serahkan ke Badan Pengurus yang terpilih FRANSISKUS GOO, menyerima SK IPMADO dengan hati nurani, seorang anak negri (OAP) jiwa untuk  membangun Organisasi IPMADO di Sulawesi utara 

pewarta: Audeles Douw

Selasa, 16 Mei 2017


Memggelarkan mua IMIPA yang ke-VIII kali Asrama
 cendrawasi putra manado sulawesi utara  foto :Audeles Douw

IMIPA adalah ikatan mahasiswa Indonesia papua

Mahasiswa mahasiswi asal dari papua dan papua barat menggabungkan dalam IMIPA pusat kota manado Sulawesi utara menggelarkan  (MUA) musawara umum yang ke-VIII kali

Kegiatan (MUA) berlangsung ini mengadakan di tempat Asrama cendrawasih putra manado Sulawesi utara pada hari sabtu tanggal 13/05/2017

Thema yang di paparkan di baleo memilih pemimpin berjiwa nasionalisme menjaga keutuhan mahasiswa asli papua

Mari anak negri papua dan papua barat untuk bergabung Dalam organisasi IMIPA ini bagian pesisir maupun bagian pegunungan tidak untuk membedakan tujuan kita ayoo anak negri memimpin demi untuk massa kami

Kami adalah anak negri papua dan papua barat demi untuk aktif dalam organisasi IMIPA khusus untuk anak asli papua
  
Ketua IMIPA yang terpilih WILSON  ITLAY mengatakan bahwa  seluruh anggota IMIPA yang telah hadir pada hari ini saya terima dengan baik organisasi seperti besar begini selanjutnya kami jalankan sesuai  dengan program kerja yang saya susung  nanti


PEWARTA : AUDELES DOUW

Senin, 15 Mei 2017


Dok Foto Pribadi (Markus Makai.@its)

Oleh : Markus Makai

Opini,www.aapandodei.blogspot.com---Seorang ibu ingin meminjam uang kepada anaknya yang telah mapan. Dengan suara rendah disertai rasa malu ibu berkata : " Nak, bolehkah ibu meminjam uang 100 ribu,? Ibu ada perlu buat beli beras.".

Anaknya tidak langsung menjawab, dengan raut muka datar ia berkata: " Iya Bu, nanti Aku tanya istriku dulu", seakan berat untuk mengiyakan, karena belum tentu isterinya mengiyakan Ketika Sang Anak masuk ke dalam rumah ia melihat dus susu anaknya masih ada bandrol harga Rp 50.000, kemudian dia merenung.

 Jika 1 dus habis 1 hari x 30 hari x 2 th = 36 juta!. Dia berfikir, waktu balita dia hanya diberikan ASI oleh ibunya, harganya tak terhingga, super steril, diberikan dengan penuh kasih sayang Jika didapat oleh seorang anak selama 2 tahun berapa yang harus ia bayar?? Kemudian ia berbalik dan menatap wajah ibunya yang teduh walau telah dimakan usia.

Dirimu telah memberikan semua kasih sayang, harta dan semuanya kepadaku tanpa pamrih, dan semua itu kuterima dgn GRATIS..Maafkan anakmu ini yang tidak tahu balas budi.

Segera ia memeluk ibunya dan mengecup keningnya dan memberi uang Rp 3 jt, sambil menangis ia berkata: "Ibu, jangan berkata pinjam lagi yaa, hartaku adalah juga milikmu, do'akan anakmu ini agar selalu berbakti padamu".

Sambil berkaca-kaca ada air bening di pelupuk mata ibu ia berkata: "Nak, di setiap keadaan ibu selalu berdo'a agar kita semua selalu dikumpulkan di dunia dan di SURGA nanti dalam kebahagian Semoga Bermanfaat.

Jangan biarkan bacaan bermakna ini mengendap di telepon mu, jadikan ladang pahala dg meberikan ke orang lain.....bagi PARA ISTRI ingatlah bahwa rizki diri suamimu adalah juga hak mertuamu.

 Dan juga perlakukanlah ibu mertua seperti ibu kandung sendiri.

Selasa, 09 Mei 2017

Jerman, Prancis, Kanada, Meksiko, Angkat Isu Papua di PBB
Ilustrasi. Sidang Dewan HAM PBB di Jenewa (Foto: UN Human Rights Council Chamber
JENEWA, KABARMAPEGAA.COM--Akhir-akhir ini masalah Papua menjadi perhatian masyarakat lokal, nasional dan internasional, bukan hanya karena Indonesia gagal membangun orang Papua melalui Otsus, tetapi juga karena sejarah pelanggaran HAM yang dilakukan oleh TNI/PORLI atas nama negara dan masih berulang kali terjadi di bumi Cendrawasih ini. Berbagai kasus kekerasan kemanusiaan yang belum diungkap. Yang sudah diungkap saja, diselesaikan dalam ketidakadilan hukum. Martabat dan harga diri orang Papua direndahkan oleh hukum Indonesia yang diskriminatif. Indonesia gagal membangun orang Papua.

Hal ini dibuktikan bahwa Kondisi pelanggaran HAM yang terus meningkat secara signifikan di Tanah Papua. Dengan adanya isu tersebut, akhirnya empat Negara buka mata membahasa Isu Papua di di Dewan HAM Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dalam Sidang Tinjauan Periodik Universal (Universal Periodic Review - UPR) pada hari Rabu (03/05) di Jenewa belum lama ini.

Delegasi dari 103 negara secara berturut-turut mengomentari laporan HAM yang disiapkan oleh Indonesia, negara yang kali ini mendapat giliran untuk mendapat peninjauan.

Seperti yang dilansir, Sutuharpan.com, edisi, Rabu (03/05), Berbagai tanggapan muncul terhadap laporan HAM di Indonesia yang disiapkan oleh delegasi RI yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi dan Menteri Hukum dan HAM, Yasona Laoly.

“Isu penindasan aktivis dan wartawan di Papua merupakan salah satu yang mendapat sorotan dan kritik dari berbagai delegasi, disamping isu lain yang dominan, yaitu meningkatnya intoleransi beragama serta seruan untuk menghentikan hukuman mati terhadap penjahat narkoba,” tulis satuharapan.com.

Dijelaskan bahwa, berdasarkan catatan dokumen yang ada di laman UPR Info, setidaknya ada tujuh negara yang secara eksplisit menyebut Papua dalam rekomendasi yang mereka sampaikan. Negara-negara itu adalah Jerman, Prancis, Kanada, Meksiko, Selandia Baru, Korea Selatan dan Jepang.

Jerman dalam rekomendasinya menyoroti pelanggaran HAM di Papua dalam kaitan penegakan hukum terhadap pejabat yang bertanggung jawab.

"Jalankan prosedur yang akuntabel terhadap semua jajaran yang bertanggung jawab terhadap pelanggaran HAM di provinsi-provinsi Papua," demikian rekomendasi dari delegasi Jerman, tulis

Selain itu Jerman juga merekomendasikan agar RI memberikan akses kepada delegasi ICRC ke provinsi-provinsi di Papua agar mereka dapat memenuhi mandat mereka.

Sementara itu Prancis dalam rekomendasinya meminta agar RI melaksanakan investigasi independen terhadap kekerasan yang terjadi atas para pembela HAM dan membawa pihak yang bertanggung jawab ke pengadilan serta menjamin kebebasan berekspresi.

Prancis juga menekankan perlunya kebebasan akses pers maupun masyarakat sipil ke Papua.

Selanjutnya, Prancis mendesak Indonesia membebaskan jurnalis untuk melakukan liputan ke Papua.

Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa melakukan UPR untuk setiap negara anggota setiap lima tahun, dan memberi kesempatan kepada negara lain untuk menganalisis kemajuan HAM di negara itu dan menyoroti masalah yang ada. Indonesia mendapat giliran pada sesi 27 pada sidang Dewan HAM PBB pada 3 Mei.

Selain negara-negara yang sudah disebutkan di atas, Korea Selatan juga menyebut Papua secara eksplisit dalam rekomendasinya. Negara ini  merekomendasikan peningkatan perlindungan kepada pembela HAM dalam upaya mereka meningkatkan kondisi HAM kelompok etnis dan agama di wilayah tertentu, termasuk di Papua.

Ada pun Meksiko merekomendasikan Pelapor Khusus PBB mengunjungi Indonesia khususnya Pelapor Khusus PBB tentang penghilangan paksa, Pelapor Khusus mengenai isu-isu minoritas, Pelapor Khusus mengenai hak atas makanan, dan Pelapor Khusus mengenai hak-hak masyarakat adat.

Secara khusus, Meksiko meminta agar para Pelapor Khusus tersebut mengunjungi Papua.

Hal senada disuarakan oleh Kanada. Negara ini meminta agar Indonesia mengambil langkah, terutama di Papua, untuk meningkatkan perlindungan bagi pembela HAM dalam melawan stigmatisasi, intimidasi dan serangan.

Indonesia juga diharapkan mengambil langkah untuk menjamin penghormatan terhadap kebebasan berekspresi dan demonstrasi damai, termasuk melalui peninjauan terhadap peraturan yang dapat digunakan untuk membatasi ekspresi politik, khususnya pasal 106 dan 110 dari KUHP.

Di bagian lain rekomendasinya Kanada meminta agar Indonesia membebaskan mereka yang ditahan semata-mata untuk kegiatan politik yang damai.

Sementara itu, Selandia Baru memberikan rekomendasi yang lebih lunak. Negara ini merekomendasikan agar Indonesia melaksanakan pelatihan yang komprehensif tentang HAM kepada aparat militer dan kepolisian, termasuk mereka yang bekerja di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Selanjutnya, Jepang dalam rekomendasinya meminta RI segera menghentikan pelanggaran HAM oleh aparat militer dan kepolisian di Papua serta menghentikan impunitas terhadap pelanggaran HAM yang berlaku di Papua.

Selain tujuh negara yang sudah disebutkan, sejumlah negara juga memberikan rekomendasi yang berkaitan dengan situasi HAM di Papua, walaupun tidak dinyatakan secara eksplisit.

Australia merekomendasikan agar Indonesia meningkatkan transparansi HAM dengan memberikan akses media lokal maupu internasional, meningkatkan hubungan dengan Kantor Komisioner HAM PBB, Palang Merah Dunia dan organisasi internasional yang relevan.

Selain itu Australia juga meminta Indonesia mengambil tindakan untuk memastikan bahwa pelanggaran HAM, termasuk pelanggaran yang dilakukan oleh pasukan keamanan Indonesia diselidiki dan mereka yang dianggap bertanggung jawab dituntut dengan cara yang adil.

"Memastikan investigasi cepat, komprehensif, dan efektif atas tuduhan pelanggaran HAM yang kredibel oleh anggota pasukan keamanan...," demikian rekomendasi Australia.

Ada pun Austria merekomendasikan langkah-langkah efektif lebih lanjut untuk mengakhiri impunitas dalam kasus-kasus kekerasan dan penyiksaan yang dilakukan oleh aparat keamanan.

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, mengatakan setelah melakukan dialog selama 3,5 jam dengan delegasi dari 103 negara, tertangkap pesan kuat bahwa para delegasi mengapresiasi berbagai kemajuan serta upaya dan komitmen Indonesia dalam mengatasi tantangan di bidang pemajuan dan perlindungan HAM.

Namun, intelektual muda dan aktivis HAM Papua, Markus Haluk, menilai sebaliknya. Ia berpendapat, laporan HAM delegasi RI di Dewan HAM PBB tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

Karena itu, lanjut dia, rakyat Papua menolak 'pembohongan' pemerintah RI dalam UPR dan menuntut pemerintah memnerikan hak penentuan nasib sendiri. (Satuharapan.com/Admin

Senin, 08 Mei 2017


“.......Lagu nan sendu, dan syair yang menawan// Mengalun di sana menyayat hatiku// Dan nada yang sendu, puisi yang menawan, terjalin bersama oh nyanyian sunyi// Tanah yang permai yang kaya.......terhampar di sana....................surga yang terlantar...........” Foto: Dokumentasi Whens Tebay)


Oleh  Maleaki Tipagau


KABARAMAPEGAA.COM--Hati ini cukup tersentuh saat pertama kali mendengar syair yang dinyanyikan oleh grup musik Mambesak itu. Mendengar lagu itu, fikiran melambung jauh pada keelokan sekaligus ketidakadilan dan koyak-moyak kehidupan yang tak berprikemanusiaan di pulau di ujung timur sana: Papua. Grup musik rakyat Papua itu dengan menakjubkan telah menyuarakan Papua melalui lirik syair-syair yang indah dan menggetarkan.

Pesona keindahan alam yang dimiliki Papua membuat orang-orang menjulukinya sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi. Raja Ampat, Kaimana, Lembah Baliem, Pegunungan Jayawijaya, adalah beberapa tempat menawan yang cukup dikenal dunia. Meski masih banyak surga kecil tersembunyi lainnya yang kini dengan kecanggihan teknologi dapat dinikmati melalui dokumentasi-dokumentasi foto di dunia maya.

Adalah komunitas Papuans Photo, sebuah komunitas fotografi yang dibentuk pada 18 Oktober 2014. Komunitas ini punya tujuan utama untuk mengasah bakat fotografi orang-orang muda Papua dan mempromosikan Papua melalui foto.

Seorang pemuda Papua bersuku Mee bernama Whens Tebay, adalah penggagas terbentuknya komunitas itu. Ia tidak memiliki pendidikan khusus fotografi, namun kecintaannya pada fotografi telah mengasah tajam bakat yang ia punyai.

“Saya mulai jatuh cinta pada dunia fotografi pada tahun 2009, waktu masuk kuliah. Dan pertama kali saya pegang kamera baru pada tahun 2013. Itupun kamera HP, lalu tidak lama kemudian saya beli kamera pocket canon shybershoot”.

Pada 2014, Kementrian Kehutanan Provinsi Papua mengadakan lomba foto dengan tema Cagar Alam Cyclops. Cyclops adalah nama sebuah pegunungan yang menaungi Jayapura. Whens terpanggil untuk mengikuti kompetisi itu. Sekitar 20-an orang muda mengikuti lomba tersebut. Whens mengirim karya fotonya berupa potret teluk Youtefa, yang meliputi hutan mangroove, jembatan ringroad, dan kampung Tobati.

Pada 1996, Pemerintah Indonesia menetapkan teluk Youtefa sebagai kawasan konservasi dengan peruntukan lokasi taman wisata alam. Youtefa dengan luas 1.675 hektare adalah teluk kecil yang berada di dalam teluk Yos Sudarso. Konon, kampung Tobati merupakan kampung tertua di teluk Youtefa. Hanya ada tiga kampung di sana: Tobati, Enggros, dan Nafri. Teluk Youtefa menjadi salah satu tempat penting dalam sejarah peradaban Orang Asli Papua. Baik dalam perkembangan sistem budaya, agama, adat, alam, maupun geografis, dan lainnya. Sayangnya, Youtefa kini relatif tak seindah dulu. Kesadaran masyarakat khususnya pengunjung untuk menjaga kebersihan masih rendah. Begitu juga dengan pihak pemerintah, belum ada upaya masif melakukan langkah strategis dan sinergis untuk menjaga keasrian dan kebersihan kawasan konservasi ini. Termasuk merawat budaya dan sejarah yang ada di dalamnya. Situasi itu sudah bermula lama. Pada 2015 JERAT Papua, sebuah jaringan kerja Hak Asasi Manusia di Jayapura menuliskan bahwa sampah berserakan di kawasan ini hingga menimbulkan bau busuk.

Banyak pihak berpotensi mencoreng kecantikan Bumi Cinderawasih. Pada 4 Maret 2017, sebuah kapal pesiar berbendera Bahama menabrak terumbu karang seluas 1.600 meter di perairan Raja Ampat Papua Barat justru di saat air surut. Peristiwa itu menuai beragam kecaman dari banyak pihak, sekaligus tuntutan perketat penjagaan wilayah perairan serta penyelesaian hukum  terhadap insiden itu. Melihat bagaimana keseriusan pemerintah Indonesia dalam menangani masalah-masalah yang terjadi di lintas sektor, barangkali dapat dilihat dengan bagaimana pemerintah menjaga dan merawat hutan dan perairannya. Ibarat rumah, keduanya seperti halaman depan dan kebun belakang rumah. Melalui peraturan yang dituangkan dalam undang-undang kepariwisataan, yaitu UU No 10 Tahun 2009, sebenarnya pemerintah sudah menjabarkan kewajibannya dan kewajiban pihak pengelola pariwisata dalam mengelola tempat pariwisata. Bagaimana mereka harus memahami pengelolaan tempat wisata tersebut tidak hanya sebagai sebuah sumber ekonomi, tetapi sebagai tempat wisata yang berkualitas bahkan dengan memasukkan prinsip-prinsip penghormatan terhadap hak asasi manusia. Itu berlaku untuk semua jenis pariwisata, termasuk perairan laut, dan teluk.

Foto Whens tentang teluk Youtefa, kampung Tobati, dan jembatan ringroad memenangi juara III. Kompetisi dan prestasi itu telah menginspirasi dia bahwa orang-orang muda Papua juga punya kemampuan, bakat, dan ketrampilan yang bagus dalam dunia fotografi. Jika tidak diberdayakan, akan sia-sia.

Whens yang lahir dan besar di Wamena, menyadari betul, Tanah Kehidupannya memiliki kekuatan karakter alam, aura, dan inner beauty. Ia ingin Orang Asli Papua khususnya orang-orang mudanya mengenali bumi Papua, dengan menjelajah dan mendokumentasikan apa yang mereka lihat dan jumpai melalui kamera.

“Orang muda Papua tidak boleh ketinggalan dengan pemuda luar. Harus punya ketrampilan, juga bisa menggunakan teknologi”, kata Whens.

Whens mengutarakan gagasannya membentuk komunitas fotografi pada kawan-kawannya di kampus. Awalnya hanya lima orang mahasiswa yang menjadi kawan berbagi idenya itu, yang kemudian lima-limanya menjadi anggota Papuans Photo. Mereka rapat, berdiskusi bagaimana membentuk dan mengkonsep komunitas ini. Rapat kerap dilakukan di warung-warung tepi jalan sepanjang Abepura-Waena. Kadang juga hanya diskusi melalui jejaring sosial.

Papuans Photo punya kegiatan utama hunting foto bersama. Peserta hunting lintas latar belakang, tidak hanya anggota komunitas saja. Tapi juga masyarakat umum, pegawai negeri, pelajar, dan mahasiswa. Whens turun tangan sendiri dalam kegiatan hunting ini.

“Setelah menyepakati tempat dan waktu, saya mentoring sendiri peserta. Tapi hanya di awal dan di akhir. Tapi saat proses, anggota komunitas juga mentoring peserta hunting itu”

Papuans Photo punya galeri online facebook @papuansphoto. Whens mencatat, kini pengikutinya di dunia maya itu mencapai 21.764 orang, dan tiap hari terus bertambah. Semua orang boleh bergabung dalam komunitas dunia maya ini, tidak hanya Orang Asli Papua saja. Namun, foto yang diunggah dalam komunitas ini diseleksi oleh tim admin, yaitu hanya foto yang berobjek di Tanah Papua.

Komunitas yang kini beranggotakan 25 orang muda (anggota aktif) itu juga masih punya rencana-rencana aktivitas lain selain rutinitas hunting. Tapi masih terkendala dana dan minimnya perlengkapan fotografi. Selama ini ia mengelola komunitasnya dengan biaya swadaya mandiri. Selain kendala dana dan perlengkapan yang minim, buruknya jaringan internet di Papua juga jadi kendala. Khususnya untuk pengelolaan komunitas dunia mayanya.

Jaringan internet di Papua tidak secepat di pulau-pulau lain. Kondisi geografis, manajemen PT Telkom, serta situasi dan gejolak politik disinyalir merupakan faktor-faktor penyebab timbul tenggelamnya jaringan itu. Di Papua rawan terjadi gempa bumi, bergoyang sebentar berpengaruh lama terhadap hilangnya jaringan internet. Pemulihan biasanya sangat lama. Jika presiden datang ke Papua, biasanya juga akan menyisakan hilangnya jaringan internet. Oktober 2016, Presiden Jokowi datang ke Sentani, jaringan internet di Sentani, Abepura, Jayapura dan sekitarnya mulai melambat. Saat itu saya sedang di sana. Disusul kerusakan jaringan fyber bawah laut karena gempa, diikuti bulan Desember tiba. Bulannya rakyat Papua. Praktis pada minggu pertama Januari 2017 jaringan internet baru lancar kembali.

“Maaf, saya tidak bisa buka dokumen yang Mbak kirim. Ini saya sedang numpang buka email di hotel di Jayapura, tapi juga lama sekali. Kalau ada gangguan begini biasanya memang satu bulan lebih baru normal lagi. Kemarin sudah ada pernyataan juga dari Telkom begitu”, kata kawan baik saya, perempuan asli Papua yang saat ini memimpin sebuah organisasi gereja.

Email saya di bulan Desember 2016 untuk seorang kawan saya lainnya, baru dia balas di awal Februari 2017. Katanya baru masuk di Januari akhir. Ia kesal karena hampir dua bulan Jayapura tanpa internet. Ia terlambat mendapatkan informasi-informasi penting dan berguna. Kawan saya lainnya, mengirim pesan pendek ke saya, katanya, “Kami di Jayapura macam sedang hidup di jaman batu”. Whens juga kesal, karena sepanjang dua bulan itu praktis komunitasnya di dunia maya antara ada dan tiada. Aktivitasnya mengelola komunitas Papuans Photo di dunia maya terhenti.

Aktivitas Whens mengelola komunitas Papuans Photo itu, sebenarnya bukanlah kegiatan utama kesehariannya. Sehari-hari Whens bekerja untuk ELSHAM Papua di Jayapura.

Sebagai pembela HAM, di ELSHAM ia lekat dengan kerja pendokumentasian. Insiden dan peristiwa-peristiwa penting di Papua, khususnya Jayapura, tidak ketinggalan ia abadikan dalam kameranya. Potret ketidakadilan dan pelanggaran HAM di Papua menjadi buruannya, untuk ia suarakan melalui foto. Satu lembar foto memang mampu mengurai cerita, kisah, dan sejarah yang panjang. Menjadi bukti sesuatu ada, sesuatu terjadi. Dalam dunia peradilan, ia menjadi sebuah alat bukti.

Tanah dan langit Papua yang sangat menawan selalu membuat kita terkagum. Tapi tidak dengan yang terjadi kepada para pemilik tanah dan langit itu, Orang Asli Papua. Hingga kini, pelanggaran hak asasi manusia terhadap Orang Asli Papua masih terus terjadi dan cukup tinggi intensitasnya dengan beragam tindakan pelanggaran. Peradaban dan eksistensi Orang Asli Papua tergerus atas nama pembangunan infrastruktur dan peningkatan taraf hidup rakyat. Identitas mereka terancam hilang. Ekspansi perkebunan kelapa sawit, tambang, mega proyek pertanian, pembukaan jalan trans, perlahan memusnahkan tanaman sagu, makanan pokok mereka, dan mengikis budaya asli lainnya. Pendekataan keamanan (militersime) yang berlebihan juga masih saja kental di bumi Cenderawasih itu. Akibatnya kekerasan juga penyiksaan oleh aparat terhadap Orang Asli Papua khususnya, begitu sering terjadi. Termasuk pada para aktivisnya, para pembela Hak Asasi Manusia.

Orang-orang muda Papua yang berada di garis depan utamanya dalam menyuarakan hak menentukan nasib sendiri dan Papua merdeka, menjadi sasaran empuk aparat kepolisian juga militer. Mereka ditangkap, ditahan, beberapa juga berbulan-bulan mendekam di dalam bui. ELSAM Jakarta mencatat, pada 2014 telah terjadi 10 peristiwa penangkapan dan penahanan dengan tuduhan separatis dengan korban sebanyak 133 orang di Papua.

Orang-orang muda Papua yang tergabung dalam organisasi Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menjadi korban langganan aksi represif dan intimidatif aparat. Laporan SKPKC Fransiskan Papua dalam Memoria Passionis Papua, sebuah potret hak asasi manusia selama 2015, pada peringatan 1 Mei 2015 aparat menangkap sekitar 260 aktivis KNPB di berbagai wilayah seperti Manokwari, Fak Fak, Sorong, Merauke, Nabire, dan Jayapura.

Whens juga menjadi incaran intel. Dalam beberapa aksi di seputaran Jayapura, saat ia hendak mendokumentasikan aksi tersebut, ia terus dibuntuti.

Pada 19 Desember 2016, saat orang-orang Papua memperingati hari Trikora (Tiga Komando Rakyat) di beberapa titik di kota Jayapura, Whens ditangkap oleh gabungan polisi dan Dalmas. Whens yang sedang mendokumentasikan aksi di Waena, tiba-tiba ditarik, tercekik, dan tercakar bagian dadanya, lalu digelandang ke Polresta Jayapura. Semua hasil jepretan Whens dihapus oleh polisi. Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) mencatat, di hari yang sama telah terjadi penangkapan disertai tindakan kekerasan terhadap sejumlah aktivis dan demonstran di Merauke, Nabire, Yogyakarta, Gorontalo, Manado, Wamena, dan Jayapura, dengan total korban 520 orang.

“Begitulah...., dan selalu begitu. Paling sering menimpa kawan-kawan KNPB. Kamera diminta paksa, foto dihapus......”

Di Papua militer dan polisi menjadi pihak lawan utama bagi banyak persoalan Orang Asli Papua, termasuk mereka para jurnalis dan fotografer. Apalagi aktivis dan demonstran.

“Padahal saya ingin, suatu saat buat pameran foto potret pelanggaran HAM di Papua”, kata Whens pada suatu hari di bulan Mei 2016 di dalam bajai yang membawa kami melaju di jalanan Tanah Abang Jakarta.

Pada akhir Mei 2016 saya menemani Whens ke kantor TEMPO di Palmerah Tanah Abang. Saya memperkenalkan Whens pada jurnalis senior TEMPO, Yosep Suprayogi dan jurnalis foto TEMPO, Rully Kesuma. Whens ingin menjadi kontributor foto buat TEMPO. Rully Kesuma meminta Whens setidaknya dalam tiga bulan kedepan mengirim hasil jepretannya. Whens setuju. Diskusi singkat dengan Rully dan Yosep membuat Whens bersemangat.

Namun sekembalinya Whens ke Jayapura, ia harus lama tinggal di pedalaman Wamena, kampung halamannya. Mamanya sakit parah. Whens yang sudah tidak punya Bapa dan hanya punya dua adik laki-laki, merawat seorang diri mamanya, hingga pada 30 Oktober 2016 mamanya meninggal, menyusul Bapa Whens.

Ia memasang foto dirinya bersama mamanya pada account facebook pribadinya. Ucapan belansungkawa membanjir. Kebanyakan dari kawan-kawannya di Papuans Photo.

“Apa karya fotomu yang paling istimewa bagimu?”

“Saya rasa foto ini. Orangtua anak ini sudah meninggal. Anak ini sendiri yang merawat adiknya sehari-hari”, jawab Whens sambil menunjukkan foto seorang anak perempuan berseragam sekolah SD berwarna merah putih rapi, berjalan menggendong adiknya. Dua-duanya menatap kosong ke depan dengan tatapan sayu dan kening berkerut.

“Objek yang belum tergapai?”

“Apa ee? Mungkin memfoto sejumlah aparat yang sedang brutal membubarkan paksa demonstran di Papua. Dan foto aparat yang sedang kasih pukul demonstran. Itu sulit. Kalaupun dapat, yaaa...begitulah....”.

Whens bukan demonstran yang orator. Namun ibarat orator, kamera adalah megaphonenya, foto adalah suaranya. Melalui foto ia menyuarakan Papua: keindahan budaya, alam dan langitnya serta ketidakadilan yang terjadi di tanahnya. Dan yang terpenting, ia menggerakkan kaum muda Papua untuk terus berkarya, mencintai tanah air dan langitnya. Komunitas-komunitas orang muda Papua harus terus bertumbuh dan bergerak dalam banyak bidang. Kuat dan komitmen menjaga kekayaan leluhur dengan berkarya menekuni bidang itu hingga zaman demi zaman berganti. Seperti Grup Musik Mambesak dengan syair-syairnya yang menggetarkan itu. Di masa lalu, Mambesak dan syair-syairnya telah menandai gerakan kebudayaan Papua, dan syair-syairnya akan terus mengalun abadi menemani gerakan generasai dan generasi gerakan penerusnya kini. sumber :https://indonesiana.tempo.co/read/110279/2017/04/11/vi2_163/papua-dalam-lensa-kamera.

Sumber : www.kabarmapegaa.com

AYAT HARIAN

Blog Archive

Popular Posts

AA-PANDODEI SE-SULAWESI